Monday, December 20, 2010

Fitur Apkir

kemarin saya buat2 soal yg rada aneh dan rada gak enakin.
yg pertama, saya unfollow salah seorang yg pernah dkt dgn saya di masa lalu, yaa... cinta yg gak kesampean lah. entah kenapa saya jadi malas utk mendengar semua celoteh org itu di twitter. gak penting dan kadang2 sok eksklusif. cih! jadi dari pada saya cuma unfollow di twitter, saya juga me remove dia dari facebook. yaa, saya bisa bilang, saya senang sekarang.

tapi saya juga bisa bilang, kita tak pernah punya hubungan yg benar2 baik. yak, saya mengatakannya skrg. perduli setan.

mungkin apkir.
ah, tapi siapa juga yang perduli, bukan??
seolah-olah kita sedang berada di suatu orbit lain di jagad bimasakti ini. no interconnection at all. mungkin memang tidak butuh. shit. saya benci sekali bahkan saat saya sedang menuliskan hal ini sekali pun.

yang kedua juga sama, orang dari masa lalu yang skrg sudah entah kemana. sekali lagi, no interconnection. org2 seperti ini seperti sebuah fitur2 pelengkap dalam cerita masa lalu. kehadirannya mungkin memang penting, tetapi itu dulu. dan sekarang kita ada di masa yg sekarang, mereka tidak eksis lagi.

kalau cerita masa lalu itu adalah sebuah perangkat atau gadget. mungkin memiliki semua yg dibutuhkan untuk melengkapi pada masa itu. berbagai fitur, program, dll. ketika jaman sudah berubah dan bergerak. fitur2 itu sudah ketinggalan jaman. orang-orang baru datang dan memenuhi perangkat yang baru. menggantikan hampir seluruhnya. yaaa namanya juga kehidupan, kata kekasih saya.

akhirnya yang membuat saya memutuskan semua kontak dengan org2 itu adalah karena mereka kerap muncul dalam cerita2 saya yang sekarang. menyebalkan. bahkan mereka muncul dalam wujudnya yang berbeda-beda. it was like, bring back your bad memory. i don't want it. enough is enough.

oia, kemarin saya juga ketemu dengan mantan kekasih saya di salah satu rumah sakit gigi. sama saja, menyebalkan. saya bahkan enggan sekali untuk menyapanya. begitu pun dengan dia, saya pikir.

ah, biarlah, seperti kata Gie di bukunya, "Let the Dead be Dead."

see ya!

Thursday, August 19, 2010

Matahari Baru


Hari ini aku datang

Lewat sepotong pesan singkat

Dihantarkan udara dan sejumput harapan kelak

Menyapamu sejenak,

Tetapi renungkan sesaat,

Aku datang bukan untuk kembali

Dan menceritakan kisah usang

Aku datang dengan persahabatan

Tanganmu kujabat erat

Meski tak ada pelukan

Kau tahu hatiku dulu pernah kau tawan

Jadi mungkin aku memang sejenak lewat

Kala hidupmu sempurna tak tertandingi

Tetapi aku memang tak akan selamanya

Menghiasi hari-harimu seperti dulu

Matahari baru telah menuntunku

Ke arah yang berlawanan

Meski pasang dan surut kehidupan,

Sampai jumpa di pelaminan!


Bandung, 13 May 2010

Friday, August 6, 2010

Sajak Atas Nama Masa

Kembali menulis lagi.
Entah apa yg akan ku jamahi di lahan kosong ini.
Mungkin sebait puisi atau sedikit curahan hati.
Di malam yg sepi ini, aku berpikir.
Tentang tulisan-tulisan terdahulu dan realitas yg terasa apkir.
Ini bait ingin sekali aku bisa menyinyir.
Melihat masa lalu yg sangat satir dan kini aku tak tersindir.
Diriku yg lalu memang tak sepadan.
Dengan masa depan yg kamu inginkan.
Apalagi kini ada bulan baru yg ku genggam di tangan.
Berani ku janjikan, kamu akan iri tak karuan, melihat dengan siapa kelak aku membangun rumah dan masa depan.
Dan ku yakinkan, kita memang selalu bersimpang jalan.

Thursday, January 7, 2010

WHAT WILL MOVIE DO TO OUR LIFE?

Apa yang akan dilakukan sebuah film terhadap hidup kita? Ada beberapa alasan mengapa kita menonton sebuah film. Dan tentu dengan berbagai cara yang berbeda pula kita menyaksikan film tersebut. Beberapa orang lebih senang menyaksikan sebuah film dengan caranya masing-masing, ada yang lebih memilih menyaksikan sebuah film lewat cara dengan datang ke bioskop, sebagian lagi memilih duduk santai di rumah dengan menyewa film. Menyaksikan film bukan hanya duduk tenang dengan tetap mengikuti arus filmnya. Dan mari kita pindahkan setting pembicaraan kita dalam sebuah bioskop yang ramai. Melihat semuanya dalam frame-frame yang bergerak cepat. Tenggelam dalam arusnya yang damai dan menghanyutkan. Rectoverso akan mengajak Anda memahami arti sebuah film dengan benar dan bukan hanya sekedar menyaksikan potongan-potongan gambar yang bergerak dan membuat kita merasa hidup dengan berbagai perasaan yang diaduk-aduk.
Sebenarnya dengan tujuan apa kita memilih sebuah film untuk disaksikan? Tentu saja, sebuah film adalah bagian dari dunia hiburan yang sarat komersialitas. Kita tetap tidak bisa menghilangkan unsur itu. Tetapi permasalahannya sekarang, adalah sebagai bagian dari dunia hiburan, beberapa film mengangkat tema yang berasal dari kehidupan, dunia sehari-hari yang penuh problematika, sebuah dunia yang sebenarnya berasal dari kehidupan para pemirsanya sendiri. Semuanya diangkat untuk memberikan perspektif baru pada audience, dan menurut Rectoverso, inilah hal yang tak diperhatikan oleh para penikmat film sendiri. Dunia film mungkin tak seluas dunia nyata itu sendiri, tetapi sebuah sajian pandangan dan harapan-harapan yang baru itulah yang membuat sebuah film dapat berarti bagi pemirsanya. Dengan begitu sebuah film dapat mempunyai peran dalam kehidupan manusia. Baik tujuan ini akan berdampak pada pemirsanya atau kepada pembuat film sendiri.
Pada awalnya, seorang penulislah yang memiliki gagasan untuk sebuah cerita dalam film. Mungkin dengan diangkat dalam sebuah layar lebar, sebuah tulisan akan lebih terangkat derajatnya, karena disana akan ada suatu bentuk visualisasi dari semua tokohnya. Semua tulisan yang awalnya hanya berasal dari kata-kata dan kumpulan kalimat akhirnya akan terwujud dalam sebuah visualisasi yang lebih nyata, lebih hidup dan ini seolah-olah membebaskan kata-kata tadi dari bekaman sebuah format bahasa tulisan. Dengan begini semuanya menjadi lebih sehat. Segala yang terjadi dalam hidup ini memiliki sebuah esensi yang nyata, hanya saja tak semua yang terlihat oleh mata dan pikiran ini benar-benar nyata terlihat oleh mata. Dan esensi yang paling nyata dari arti sebuah film adalah sebuah pesan yang disampaikan oleh film itu. Dengan tertangkapnya hal ini oleh para pemirsanya, baiklah bisa dikatakan bahwa telah tercapailah tujuan sebuah film itu dibuat. Dan hal apa yang paling menyakitkan terjadi dalam sebuah porsi kehidupan ini? Ketika sebuah esensi yang seharusnya menjadi nyata tak benar-benar terlihat oleh mata atau pikiran dan hilanglah arti yang tadinya diagung-agungkan dalam permulaan tujuannya.

Friday, November 6, 2009

Doa Minta Jodoh (krg ajar)

ya Tuhan, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah…
Tapi kalau bukan jodohku, jodohkanlah….
Jika dia tidak berjodoh denganku, maka jadikanlah kami jodoh…
Kalau dia bukan jodohku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain,selain aku…..
Kalau dia tidak bisa di jodohkan denganku, jangan sampai dia dapet jodoh yang lain, biarkan dia tidak berjodoh sama seperti diriku…
Dan saat dia telah tidak memiliki jodoh, jodohkanlah kami kembali…
Kalau dia jodoh orang lain, putuskanlah! Jodohkanlah dengan ku….
Jika dia tetap menjadi jodoh orang lain, biar orang itu ketemu jodoh dengan yang lain dan kemudian Jodohkan kembali dia dengan ku … “Amin…”

Saturday, September 5, 2009

With or Without You


Have you ever tried this thing? It’s like when you desperately need someone, and then the one you need is unreachable to talk to, to meet to. And when the situation come like this, there’s only two options now, live without him/her or you still with him/her no matter how the situation brings. I know it sounds like you don’t have that much option to runaway or just like one of my friends said, “it’s better to get self injury rather than hurting someone.”
Owh, it’s really a goddamn crap!
And what if the one you can count on your life is gone for a while? Can’t you imagine how boring this life can be? The one who called you with the nickname his/her made for you. How bad and lousy this life can be rite? You can’t no longer call him, or just send him/her a short message, or chat maybe. I know it sounds pathetic man! But here I am. Keep wondering how it would be with my life in 2009. I know everyone made their own resolutions at the beginning of the year. I made mine too. But somehow things keep falls apart. I know I don’t want this to happen. But life is always like a game. When we played the game nicely, then the result doesn’t like what we think.

Thursday, August 20, 2009

Kau

Seperti yang lainnya, kau datang
Bahkan menyerukan sayang dan banyak perhatian
Yang kutangkap dalam-dalam
Lewat sembahyang malam atau lamunan kosong siang-siang
Mengangkatku tinggi-tinggi di awan
Bahwa akulah yang kau inginkan
Dan jarak pun akan kutantang
Ratusan kilometer telah kuterjang
Lantas semuanya menghilang,
Ketika satu malam
Ragumu menyeruak datang
Mengguncang sedikit perasaan
Janji yang kau bilang tak seindah kenyataan
Harapan yang kau hembuskan di dadaku beringsut tersapu malam
Yang kuharapkan sekarang jauh dari pandangan
Diluar dugaan,
Katamu "Hidup penuh pilihan"
Dan sekarang kamu mempertanyakan
Apa yang sekarang kutetapkan sebagai impian
Perlahan sayangmu memudar,
Sapaan itu tenggelam
Dalam keraguan dan ketakutan,
Salahkah Engkau Tuhan?
Membangunkanku tengah malam untuk mendatangkan dia seorang
Yang segenap raga dan jiwa kucintai
PadaMu lah aku bergantung sekarang,
Karena yang kuinginkan adalah dia seorang
Bukan karena aku telah lama sendirian
Atau untuk mengobati luka yang mengerang
Janjiku adalah kebahagiaan
Untuk dia di masa depan
Aku hanya butuh sedikit dukungan dan kekuatan
Agar yang kuimpikan menjadi kenyataan
Dan memastikan kau tak akan menyesal
Melihatku bisa menjadi kebanggaan
Sedikit saja aku menyayangkan
Mengapa ini yang kerap terulang?
Dan selalu aku tak patah arang
Biar hidup dalam cengkraman
Setujukah Kau bila dia yang hendak kupinang?
Berikan aku satu kali saja petunjuk Tuhan,
Dan semuanya akan kukerahkan
Untuknya seorang.



Bandung, 18 Juli 2009

Tuesday, August 18, 2009

Refleksi 64 tahun Merdeka

Merdeka,
Apa yang bisa kujanjikan pada Soekarno-Hatta,
Saat mereka mempoklamasikan kemerdekaan?
Apa yang mampu kuberikan pada para pejuang,
Yang berperang dengan bambu runcing di tangan kanan,
Dan merah putih di kepala?
Berapa lama lagi bisa kurasakan kemerdekaan ini?
Siapa lagi yang merasa terjajah?
Entah apa sekarang yang terjarah,
Bukankah para pejuang itu bersedia bersimbah darah
Melawan penjajah dan kedegilan yang menanah
64 tahun merdeka,
Mengangkat merah putih diatas cakrawala
Apa yang bisa kusuguhkan pada nusa dan bangsa?
Bukankah udara ini sudah begitu bebas dirasakan?
Ketakutan apa lagi yang kupikirkan,
Penjajahan macam apa lagi yang kalian rasakan?
Apa lagi yang menghentikan kalian mewujudkan impian?
Tak ada lagi batas yang kau perhitungkan
Hilang sudah keraguan akan pengakuan
Mari genggam tanganku erat-erat
Dengan kejujuran yang kupegang lemat-lemat
Dengarkah kalian akan degup jantungku yang berdetak
Menunggu kalian mewujudkan impian menjadi nyata
Dan membuat pribadi-pribadi yang sejahtera
Meski katanya tanah kita sudah lama merah karena luka
Ataukah itu merah darah yang begitu lama?
Pada Soekarno-Hatta, aku berjanji,
Memerdekakan hidupku sendiri,
Membantu manusia Indonesia menjadi makhluk mandiri
Pada para pejuang tanpa nama itu aku berkata,
Meski belum sekalipun aku berjumpa
Perjuangan kalian tak akan sia-sia
Sekali ini saja, dengarkan aku bersiap berdoa
Sambil menghujamkan Sang Saka ke batas cakrawala.


Bandung, 17 Agustus 2009

Sunday, July 12, 2009

Liesa Aulia


Liesa Aulia

Aku bisa bicara banyak tentang liesa aulia
Tentang bagaimana cara dia menghiasi hari,
Entah hariku atau harinya
Yang dipenuhi canda dan tawa
Sungguh menyenangkan bersamanya
Menghabiskan seluruh waktu untuknya
Tak ada yang percuma
Semua selalu bermuara
Pada satu tujuan,
Mencintai dirinya apa adanya
Tak perduli orang berkata apa
Aku hanya ingin dirinya
Menunggu untuk bertemu dengannya juga tak apa
Asal bisa bicara lagi dengannya
Tanpa sedikitpun perantara
Tetapi murni bertatap mata
Di Jogjakarta kita tercinta,
Bersamamu selamanya


Bandung, 2 Juni 2009